BHINEKA TUNGGAL IKA   10 comments

 

BHINEKA  berarti aneka, keaneka ragaman, berbeda – beda, bermacam – macam.

TUNGGAL  berarti satu.

IKA  artinya itu, menjadi itu.

BHINEKA TUNGGAL IKA  berarti berbeda – beda, bermacam – macam, beraneka ragam, semuannya menjadi yang satu itu, semuanya berada dalam yang satu  itu, dan semua menjadi yang satu itu,  jadilah SATU.

Makna dari BHINEKA TUNGGAL IKA adalah berbeda – beda negara, bangsa, suku, etnis, kebudayaan, adat, bahasa, agama, kepercayaan,  berbeda – beda wujud, ada wujud halus ( jin, malaikat, dsb ),  ada wujud kasar / fisik ( manusia, binatang, dsb ), ada tumbuhan, Ada cacing di tanah, ada bakteri, ada virus, dsb.  Semuanya adalah SATU,     satu langit, satu bumi, satu alam semesta, satu jagat raya, satu Sang Pencipta, satu Tuhan.

Dalam bhagavad gita Krishna menjelaskan kepada Arjuna bahwa semua yang ada di alam semesta ini tanpa terkecuali sedang menuju kepada NYA  (maksudnya Tuhan).  Bagaimana pun manusia melakukan persembahan kepada NYA, sesuai petunjuk kitab – kitab suci (sembahyang, -YANG maksudnya Tuhan, jadi maksud kata sembahyang berarti menyembah Tuhan), bagaimana pun mahluknya melakukam ibadah atau ritual, sesuai dengan kepercayaan atau agama mereka masing – masing,  asalkan niatnya di tujukan kepada NYA, yang telah menciptakan seluruh jagad raya ini, apa pun sebutannya,  Yang Maha ini…,  Yang Maha itu…,  Sang Yang ini…,  Sang Yang itu…,  Krishna menjelaskan semua persembahan tersebut akan sampai kepada NYA.  (bhagavad gita)

 

HARMONIS DENGAN ALAM

Pada suatu hari para pandawa pernah di tugaskan untuk menjaga ritual keagamaan yang di lakukan oleh para guru mereka, di tengah hutan belantara.  Sebab di hutan tersebut banyak raja para jin yang sering mengganggu.

Krishna juga ikut menemani para pandawa untuk menjaga ritual keagamaan tersebut dengan cara bergiliran pada tiap malamnya, dan Krishna mendapat giliran paling terakhir.

Ketika giliran para pandawa yang menjaga, banyak sekali serangan dan gangguan dari para mahluk halus yang sangat sakti, sehingga para pandawa sangat kwalahan menghadapinya, padahal berbagai kesaktian dan juga semua senjata pusaka yang sangat ampuh sudah di pergunakan oleh para pandawa untuk menghadapi gangguan dan serangan itu,  namun tetap saja para pandawa sangat kerepotan,  dan juga sangat kesulitan menghadapinya.

Pada malam terakhir giliran Krishna yang menjaga,   ketika Krishna berjaga ia sangat santai dan tidak membawa senjata apa pun, dan juga tidak melakukan persiapan khusus seperti yang di lakukan oleh para pandawa pada hari sebelumnya.

Namun,  ada yang lain pada malam itu pada saat Krishna berjaga,  yaitu seluruh hutan kelihatan sangat tenang, aman dan sangat terasa damai,  bahkan sama sekali tidak ada serangan dari mahluk halus mana pun yang pada malam sebelumnya selalu mengganggu ketika para pandawa yang berjaga.

Para pandawa sangat heran dengan kejadian tersebut.   Keesokan harinya mereka menanyakan kejadian itu kepada Krisna.

“Arjuna langsung berkata pada Krishna :

Saudaraku mengapa tadi malam pada saat kau berjaga,  hutan ini sangat tenang, bahkan tidak ada satu mahluk halus pun yang mengganggu ?”.

Krishna menjawab :

“Selama ini kalian membenci mereka,  dan kebencian kalian pada mahluk lainnya juga banyak.  Rasa benci yang ada pada diri kalian mudah di rasakan oleh para mahluk halus,  kalau kalian mengarahkan rasa benci itu kepada mahluk halus, maka mereka akan membalasnya dengan cara mengganggu atau menyerang kalian.   Rasa benci kepada mahluk lain pun akan membuat pola energi kalian menjadi seperti tajam dan juga seperti kotor.   Pola energi yang seperti itu sangat mudah di rasakan oleh mahluk yang berbadan halus dan sangat mengganggu mereka,   sehingga jika kalian memasuki tempat – tempat yang di huni oleh mereka,  maka mereka dapat mengganggu kalian,  sebab kebencian yang terpancar dari jiwa kalian walaupun kalian tidak menyadarinya, dapat mengganggu ketentraman dan kenyamanan mahluk yang bebadan halus.”

Krishna menambahkan :

“Aku tidak pernah membenci mereka dan juga mahluk apa pun.  Aku mengasihi dan mencintai semua mahluk tanpa syarat dan tanpa batas apa pun, dan aku tidak pernah berniat buruk sedikit pun kepada mereka.   Jadi wajarlah jika para mahluk halus itu tidak ada yang mengganggu aku.”                                                                              Demikianlah Krishna menjelaskan untuk memberi ajaran – kasih – kepada pandawa.

 

KASIH

Kasih dan mengasihani alias kasihan adalah hal yang sangat berbeda.  Kasih timbul dari kesadaran murni dan juga dari pencerahan.  Sementara kasihan timbul dari ego.

Seorang yang merasa kasihan terhadap suatu obyek, suatu waktu dapat membenci obyek itu. Karena rasa benci dan kasihan berasal dari ego yang sama.

Baik buruk, sukha dukha, pemarah sabar, jahat alim, kasar halus, dan semua sifat yang memiliki pasangan saling bertentangan berasal dari ego.

Kasih  adalah tunggal.  Dan tidak memiliki  pasangan lainnya.  Kasihan memerlukan syarat – syarat tertentu,  sedangkan –kasih- tidak pernah bersyarat dan juga tidak pernah terbatas.

Kasih itu universal,  tidak membedakan suku, etnis, bangsa, agama, kepercayaan, derajat, latar belakang, baik atau jahat, atau pun persyaratan lainnya.

Krishna mengatakan bahwa –kasih- adalah sumber penciptaan, sumber dari seluruh kehidupan, dan juga energi vital bagi seluruh penciptaan dan kehidupan itu sendiri.

Seluruh kekuatan alam tunduk pada energi kasih.

Semua kekuatan alam dan semua kesaktian yang ada, termasuk yang terdapat pada benda pusaka apa pun, termasuk kekuatan dan kesaktian yang di miliki oleh para Dewa dapat di taklukan dengan energi –kasih- .

Itulah sebabnya Shidarta Gautama, dan juga orang lain yang memiliki sifat  -kasih- dapat dengan mudah mengalahkan para raja siluman yang sangat sakti, dan juga mudah sekali menaklukan senjata pusaka yang menyerang mereka.

Kalau ada pemuka agama yang sering berkotbah tentang  -kasih- , namun ia sering menyiksa mahluk lain, seperti memukuli anjing sampai mati sebelum di sembelih,  atau memasukan anjing itu ke karung lalu membanting – bantingnya sampai mati, atau mencekiknya  sehingga anjing itu tersiksa sebelum akhirnya mati, untuk di sembelih.

Hal tersebut menunjukan bahwa pemuka agama tersebut belum memiliki  -kasih- .  Seorang yang memiliki –kasih- hati nurani nya akan hidup dan berkembang tanpa batas, ia tidak akan tega membuat mahluk lain menderita, dan tidak akan bersenang – senang di atas penderitaan mahluk lain apalagi kalau penderitaan mahluk lain itu akibat ulahnya, seorang yang memiliki  -kasih-  tidak akan senang melihat mahluk lain menderita,  walau pun itu orang yang sering berbuat jahat kepadanya.

Kalau terpaksa menyembelih binatang untuk di makan, pakailah cara atau teknik tertentu agar binatang itu tidak terlalu menderita / tersiksa sewaktu di sembelih.

Seorang yang memiliki sifat  -kasih- terbebas dari rasa benci terhadap siapa pun dan terhadap apa pun juga.

Ia mudah memaklumi kejahatan yang di tujukan kepada nya.

Seseorang yang dengan mudah membenci, apalagi hanya karena iri, dengki,  atau hanya karena di hasut oleh orang lain, hanya menunjukan bahwa orang yang mudah membenci tersebut masih berjiwa rendah.

Kalau ada orang lain berbuat jahat kepada kita, sebaiknya  hanya rasa kesal atau marah saja yang timbul,  tapi jangan sampai membenci.

Rasa kesal dan marah akan memudar dengan sendirinya,  sedangkan rasa benci dapat terus berkepanjangan, dan hanya akan mengotori jiwa kita sendiri.

Sifat benci sudah sering di tanamkan pada jiwa manusia ketika manusia masih anak – anak, terutama oleh pemuka agama yang fanatik. Seperti untuk membenci agama lain, membenci setan, dan lain sebagainya.

Rasa benci yang sudah di tanamkan dari semenjak anak – anak membuat sifat  -kasih- dalam diri manusia tidak dapat berkembang.

Sifat benci yang sudah ada dalam jiwa manusia akan terus berkembang tanpa batas,  sekarang hanya membenci setan, besok – besok akan membenci  yang lainnya,  sehingga semakin banyak sesuatu yang akan di bencinya.

Hanya karena berbeda agama, suku, etnis, dan juga sebab yang lain, kita mudah membenci orang lain.

Padahal secara kenyataan dan fakta orang yang mereka benci, terutama oleh sebab perbedaan, seperti perbedaan agama, etnis dan lainnya, itu sama sekali belum pernah berbuat kesalahan atau pun kejahatan kepada orang yang membencinya itu.

Dalam ajaran agama kita di ajarkan untuk tidak mengikuti ajaran setan, namun bukan untuk membencinya.  Sebab ketika kita sudah memiliki sifat benci, maka pada saat itulah kita juga sudah sama seperti setan.

Masih ingat cerita tentang Adam dan iblis di Al Quran dan Injil ? Dahulu iblis adalah malaikat.  Setelah Adam di ciptakan, iblis langsung membenci Adam di karenakan rasa iri karena Adam di berikan derajat yang lebih baik.

Pada saat rasa benci itu muncul dalam diri malaikat itu, maka pada saat itulah malaikat itu langsung berubah menjadi iblis / setan.

Bukan hanya malaikat yang tiba – tiba dapat berubah menjadi setan / iblis apabila kebencian telah mendominasi dalam jiwa,  mahluk lain pun termasuk manusia dapat berubah menjadi sosok setan / iblis apabila jiwa sudah di penuhi dengan rasa benci.

Untuk memiliki sifat  -kasih-, kita harus bisa membuang semua rasa benci yang ada pada diri kita, rasa benci itu jangan di pendam dalam hatu, tetapi di buang seluruhnya dari hati dan jiwa kita.

Kasihi lah setiap mahluk tanpa persyaratan apa pun dan tanpa batas apa pun.

Dalam kisah Yesus dan iblis,  Yesus pernah di cobai iblis agar Yesus berpaling dari ajaran Allah , namun Yesus sama sekali tidak marah atau pun membenci iblis itu,  sebaliknya  Yesus malah mengasihi serta menasehati iblis itu, agar iblis bertobat dan kembali ke jalan Tuhan.  Yesus sangat mengasihi semua  mahluk termasuk iblis dan setan, bahkan Yesus juga mendoakan iblis, agar suatu saat iblis dapat kembali ke jalan  Tuhan.

Dalam agama Islam juga di ajarkan agar umatnya selalu mengucapkan  bismillah…. ketika akan melakukan sesuatu, yang artinya “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.                                                   Dari kalimat itu jelaslah bahwa sifat  -kasih- di ajarkan dalam semua agama.  Karena  -kasih- adalah energi  vital yang meliputi seluruh alam semesta ini.

Kalau ada orang yang sering berkotbah tentang  -kasih- ,  tetapi dalam melakukan kebaikan masih memilih – milih, apakah obyeknya masih se-agama dengan dia atau tidak, masih satu aliran / sekte atau tidak, masih satu suku / etnis atau tidak, serta masih mencari – cari perbedaan lainnya.  Semua hal tersebut menunjukan bahwa orang itu belum memiliki  -kasih- .

Kasih itu tidak pernah memperhatikan latar belakang.

Kasih itu ikhlas dan universal.  Kasih itu tidak mengharapkan balasan atau pujian dalam bentuk apa pun,  baik tidak mengharapkan balasan di dunia, dan juga tidak mengharapkan balasan di akhirat, serta tidak mengharapkan balasan apa pun baik secara lahiriah maupun bathiniah.  Kasih itu sangat iklas dan tulus.

Seorang yang memiliki  -kasih- dapat melakukan kebaikan tanpa harus di imimng – imingi dengan surga dan pahala,  bisa tidak melakukan kejahatan tanpa harus di takut – takuti dengan dosa / kamma, atau pun azab atau siksa neraka.

Mereka yang mempunyai sifat  -kasih- hati nurani nya hidup dan ber-jiwa ikhlas,  sehingga di iming – imingi istana megah di surga, bidadari cantik bertelanjang dada sudah tidak dapat mempengaruhi mereka lagi,  termasuk janji akan di bangkitkan dengan sukha cita pada hari kebangkitan.

Mereka tidak peduli dengan janji – janji itu, karena  semua yang mereka lakukan tulus dan ikhlas.

Mereka bukanlah anak kecil yang harus di iming – imingi dengan hadiah serta imbalan tertentu agar mau melakukan kebaikan terhadap sesama,  dan tidak perlu di takut – takuti dengan ancaman tertentu supaya tidak melakukan kejahatan terhadap mahluk lainnya.

Hubungan mereka dengan Sang Pencipta adalah hubungan antara Tuhan dan hambanya yang saling mencintai, bukan hubungan antara pedagang dan pembeli.

Jika mereka melakukan amal atau kebaikan lainnya,

Bukan karena mereka menginginkan Tuhan membeli kebaikan serta amal mereka  dengan bayaran pahala dan surga, atau dengan bayaran bidadari cantik dengan istananya yang megah, atau pun bukan agar di bayar supaya di bangkitkan dengan sukha cita pada hari kebangkitan nanti.

Karena  -kasih- itu bukanlah pengharapan, tapi ketulusan dan keikhlasan yang bersumber dari pencerahan murni dan kesadaran murni.

 

 

 

 

 

Karya lainnya juga saya tulis pada :

http://www.kompasiana.com/vm2insert

http://vazamurfi-ensklopedia.blogspot.com

RAMALAN DAN INDERA KEENAM :

http://vm2insert6.wordpress.com

UMUM :

http://vm2xy4.wordpress.com

http://islamkaffah-zhaimar.blogspot.com

dan lain – lain.

Advertisements

Posted May 31, 2012 by vm2insert in Uncategorized

10 responses to “BHINEKA TUNGGAL IKA

Subscribe to comments with RSS.

  1. Dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh ayat 34 diterangkan:

    WA IDZQULNAA LIL MALAAIKATISJUDUU LI AADAMA FASAJADUU ILLA IBLIISA ABAA WASTAKBARO WA KAANA MINAL KAAFIRIIN
    Artinya: Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
    Dalam kitab tafsir Mafatihul Ghoib Jilid I halaman 427 diterangkan:

    QOOLA KATSIIRUN MINAL FUQOHA INNAHU KAANA MINHUM
    Artinya : Berkata kebanyakan dari Ahli Fiqih: “Sesungguhnya Iblis itu adalah dari golongan Malaikat.

    Adapun alasan ahli Fiqih berpendapat Iblis adalah termasuk dari golongan malaikat adalah:
    1. Ayat di atas menyatakan bahwa Alloh Ta’ala perintah kepada Malaikat supaya sujud kepada Adam, maka kalau Iblis bukan dari golongan Malaikat, Ibils tidak sujud kepada Adam itu tidak apa-apa, sebab dia tidak termasuk golongan Malaikat. Sebab yang diperintah adalah malaikat saja, “Waidzqulnaa Lil Malaaikati” tidak ada tambahan “Wal Ibliisa”.
    Itu tandanya bahwa Iblis itu termasuk golongan Malaikat yakni Malaikat yang membandel, seumpama bukan golongan Malaikat maka tidak ikut sujud tidak apa-apa sebab di luar perintah.
    2. Pada ayat tersebut kalimat “Illa Ibliisa” artinya “kecuali Iblis” yang tidak mau sujud. “Illaa” itu kalimat Isti’na maksudnya pengecualian. Kalau seandainya Iblis itu bukan dari golongan Malaikat, maka tentu tidak ada kewajiban untuk sujud, dan tidak sujud tidak apa-apa karena jelas bahwa perintah itu ditujukan kepada para malaikat saja, bukan makhluk lainnya

  2. “dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya……”(AlQuran surat al kahfi ayat 50) Disitu jelas ada kalimat -Kami berfirman kepada para malaikat- dan kata “JIN” bersal dari bahasa arab yang artinya tertutup atau tidak terlihat, dari pendalaman bahasa dan tafsir ini jelas iblis dulunya termasuk malaikat

  3. yoga artinya menyatukan diri dengan sifat-sifat ke illahian seperti istilah manunggaling kawaulo Gusti, mempertemukan diri dengan Tuhan. Sholat dan dzikir termasuk berbagai ibadah yang dilakukan oleh berbagai umat beragama adalah termasuk yoga, efek dari yoga adalah ketenangan dan ketentraman bathin

  4. api menciptakan cahaya, dimana ada api disitu ada cahaya, lihat bola lampu yang ketika dialiri listrik serat kawat pijarnya menyala terbakar, namun karena didalam lampu tidak ada udara padahal proses pembakaran membutuhkan udara maka kawat pijar tidak habis terbakar, tetapi hanya membara semakin kuat dan terciptalah cahaya yang terang dari sebuah lampu, matahari dan bintang juga merupakan api yang sangat besar, dan dari api yang menyala pada matahari terciptalah cahaya yang menerangi berbagai planet, Di alam ini api dan cahaya tidak pernah terpisahkan

  5. “kasih” itu bersifat adil dan bijak, tidak akan mengundur kamma yang akan menciptakan ketidaksadaran pada pelaku kehidupan, akan membiarkan setiap makhluk menjalani berbagai kehidupan sesuai dengan kamma dan dhammanya sendiri, agar meeka memperoleh pelajaran didalamnya dan menjadi bijak setelahnya, mengundur kamma sama saja mengundur atau menghilangkan pelajaran yang seharusnya ia dapatkan sehingga ia tidak memperoleh pencerahan dan kesadaran dari hidup ini

  6. ilmu-ilmu Tuhan yang dirahasiakannya tidak akan tertulis dalam kitab suci agama apapun, dan pengetahuan yang terdapat dalam berbagai kitab suci disesuaikan dengan keadaan serta kondisi kaum penerimanya, tidak akan cukup ilmu Tuhan dituliskan dalam berbagai kitab suci yang setipis itu, apalagi ilmu-ilmu Tuhan tidak pernah ada batasnya

  7. agama hendaknya dapat membersihkan jiwa manusia dari sifat – sifat “kotor” serta membersihkan jiwa dari sifat – sifat “setan” seperti kebencian, iri, dengki, serakah, fitnah, dll, juga agama berfungsi untuk membersihkan jiwa manusia dari insting hewani seperti insting membunuh, tidak bertanggung jawab, mementingkan hawa nafsu, dll. Agama melatih kita lebih manusiawi, manusia yang manusiawi, manusia yang berhati nurani hidup, sehingga jiwanya menjadi bersih ketika menghadap pada Sang Khaliq

  8. sering kali manusia yang tidak sadar membenci orang / kelompok agama lain tanpa sebab, secara fakta yang dibenci tidak pernah melakukan kesalahan pada yang membenci, hanya karena perbedaan keyakinan, sungguh alasan yang tidak masuk akal, mereka tidak sadar bahwa kebencian telah mencemari seluruh jiwa mereka, padahal kebencian merupakan sifat “setan” yang dapat membenci adam tanpa sebab sehingga ia langsung jatuh derajatnya, agama seharusnya dapat membersihkan kebencian dari jiwa manusia

  9. sering manusia yang tidak sadar memutuskan tali silaturahmi dengan orang yang berkepercayaan lain, perhatikan hadist shahih ini : Dari Jubair ibnu muth’im radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga seorang pemutus, yaitu pemutus tali kekerabatan”. Mutafaqhttp Alaihi. . Agama seharusnya dapat mempersatukan manusia dalam kesadaran bukan memecah belah manusia, bukan untuk menciptakan permusuhan antar manusia , karena dalam berbagai kitab suci “setan” telah berkomitmen untuk membuat manusia saling bermusuhan, dan kini para “setan” telah tinggal dalam hati dan pikiran setiap manusia, sehingga banyak manusia membenci dan bermusuhan tanpa sebab yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. LAKUM DINUKUM WALIYADIN, bagimu agamamu bagiku agamaku, bagimu pendapatmu, bagiku pendapatku http://vm2insert.blogspot.com

  10. Seseorang memberi komentar kepada masternya yang masih se-agama, “bahwa menurut kitab suci kita mengatakan agama itu dan ini tidaklah rela sebelum orang – orang dari agama kita berpindah ke agama mereka”.

    Sang master dengan tenang menjawab. “Apakah kamu tidak memperhatikan, orang – orang dari agama kita pun sama agar semua manusia harus se-agama dengan kita. Kita pun tidak ikhlas sebelum orang yang beragama lain pindah ke agama kita.” http://vm2insert.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: