BHINEKA TUNGGAL IKA   10 comments

 

BHINEKA  berarti aneka, keaneka ragaman, berbeda – beda, bermacam – macam.

TUNGGAL  berarti satu.

IKA  artinya itu, menjadi itu.

BHINEKA TUNGGAL IKA  berarti berbeda – beda, bermacam – macam, beraneka ragam, semuannya menjadi yang satu itu, semuanya berada dalam yang satu  itu, dan semua menjadi yang satu itu,  jadilah SATU.

Makna dari BHINEKA TUNGGAL IKA adalah berbeda – beda negara, bangsa, suku, etnis, kebudayaan, adat, bahasa, agama, kepercayaan,  berbeda – beda wujud, ada wujud halus ( jin, malaikat, dsb ),  ada wujud kasar / fisik ( manusia, binatang, dsb ), ada tumbuhan, Ada cacing di tanah, ada bakteri, ada virus, dsb.  Semuanya adalah SATU,     satu langit, satu bumi, satu alam semesta, satu jagat raya, satu Sang Pencipta, satu Tuhan.

Dalam bhagavad gita Krishna menjelaskan kepada Arjuna bahwa semua yang ada di alam semesta ini tanpa terkecuali sedang menuju kepada NYA  (maksudnya Tuhan).  Bagaimana pun manusia melakukan persembahan kepada NYA, sesuai petunjuk kitab – kitab suci (sembahyang, -YANG maksudnya Tuhan, jadi maksud kata sembahyang berarti menyembah Tuhan), bagaimana pun mahluknya melakukam ibadah atau ritual, sesuai dengan kepercayaan atau agama mereka masing – masing,  asalkan niatnya di tujukan kepada NYA, yang telah menciptakan seluruh jagad raya ini, apa pun sebutannya,  Yang Maha ini…,  Yang Maha itu…,  Sang Yang ini…,  Sang Yang itu…,  Krishna menjelaskan semua persembahan tersebut akan sampai kepada NYA.  (bhagavad gita)

 

HARMONIS DENGAN ALAM

Pada suatu hari para pandawa pernah di tugaskan untuk menjaga ritual keagamaan yang di lakukan oleh para guru mereka, di tengah hutan belantara.  Sebab di hutan tersebut banyak raja para jin yang sering mengganggu.

Krishna juga ikut menemani para pandawa untuk menjaga ritual keagamaan tersebut dengan cara bergiliran pada tiap malamnya, dan Krishna mendapat giliran paling terakhir.

Ketika giliran para pandawa yang menjaga, banyak sekali serangan dan gangguan dari para mahluk halus yang sangat sakti, sehingga para pandawa sangat kwalahan menghadapinya, padahal berbagai kesaktian dan juga semua senjata pusaka yang sangat ampuh sudah di pergunakan oleh para pandawa untuk menghadapi gangguan dan serangan itu,  namun tetap saja para pandawa sangat kerepotan,  dan juga sangat kesulitan menghadapinya.

Pada malam terakhir giliran Krishna yang menjaga,   ketika Krishna berjaga ia sangat santai dan tidak membawa senjata apa pun, dan juga tidak melakukan persiapan khusus seperti yang di lakukan oleh para pandawa pada hari sebelumnya.

Namun,  ada yang lain pada malam itu pada saat Krishna berjaga,  yaitu seluruh hutan kelihatan sangat tenang, aman dan sangat terasa damai,  bahkan sama sekali tidak ada serangan dari mahluk halus mana pun yang pada malam sebelumnya selalu mengganggu ketika para pandawa yang berjaga.

Para pandawa sangat heran dengan kejadian tersebut.   Keesokan harinya mereka menanyakan kejadian itu kepada Krisna.

“Arjuna langsung berkata pada Krishna :

Saudaraku mengapa tadi malam pada saat kau berjaga,  hutan ini sangat tenang, bahkan tidak ada satu mahluk halus pun yang mengganggu ?”.

Krishna menjawab :

“Selama ini kalian membenci mereka,  dan kebencian kalian pada mahluk lainnya juga banyak.  Rasa benci yang ada pada diri kalian mudah di rasakan oleh para mahluk halus,  kalau kalian mengarahkan rasa benci itu kepada mahluk halus, maka mereka akan membalasnya dengan cara mengganggu atau menyerang kalian.   Rasa benci kepada mahluk lain pun akan membuat pola energi kalian menjadi seperti tajam dan juga seperti kotor.   Pola energi yang seperti itu sangat mudah di rasakan oleh mahluk yang berbadan halus dan sangat mengganggu mereka,   sehingga jika kalian memasuki tempat – tempat yang di huni oleh mereka,  maka mereka dapat mengganggu kalian,  sebab kebencian yang terpancar dari jiwa kalian walaupun kalian tidak menyadarinya, dapat mengganggu ketentraman dan kenyamanan mahluk yang bebadan halus.”

Krishna menambahkan :

“Aku tidak pernah membenci mereka dan juga mahluk apa pun.  Aku mengasihi dan mencintai semua mahluk tanpa syarat dan tanpa batas apa pun, dan aku tidak pernah berniat buruk sedikit pun kepada mereka.   Jadi wajarlah jika para mahluk halus itu tidak ada yang mengganggu aku.”                                                                              Demikianlah Krishna menjelaskan untuk memberi ajaran – kasih – kepada pandawa.

 

KASIH

Kasih dan mengasihani alias kasihan adalah hal yang sangat berbeda.  Kasih timbul dari kesadaran murni dan juga dari pencerahan.  Sementara kasihan timbul dari ego.

Seorang yang merasa kasihan terhadap suatu obyek, suatu waktu dapat membenci obyek itu. Karena rasa benci dan kasihan berasal dari ego yang sama.

Baik buruk, sukha dukha, pemarah sabar, jahat alim, kasar halus, dan semua sifat yang memiliki pasangan saling bertentangan berasal dari ego.

Kasih  adalah tunggal.  Dan tidak memiliki  pasangan lainnya.  Kasihan memerlukan syarat – syarat tertentu,  sedangkan –kasih- tidak pernah bersyarat dan juga tidak pernah terbatas.

Kasih itu universal,  tidak membedakan suku, etnis, bangsa, agama, kepercayaan, derajat, latar belakang, baik atau jahat, atau pun persyaratan lainnya.

Krishna mengatakan bahwa –kasih- adalah sumber penciptaan, sumber dari seluruh kehidupan, dan juga energi vital bagi seluruh penciptaan dan kehidupan itu sendiri.

Seluruh kekuatan alam tunduk pada energi kasih.

Semua kekuatan alam dan semua kesaktian yang ada, termasuk yang terdapat pada benda pusaka apa pun, termasuk kekuatan dan kesaktian yang di miliki oleh para Dewa dapat di taklukan dengan energi –kasih- .

Itulah sebabnya Shidarta Gautama, dan juga orang lain yang memiliki sifat  -kasih- dapat dengan mudah mengalahkan para raja siluman yang sangat sakti, dan juga mudah sekali menaklukan senjata pusaka yang menyerang mereka.

Kalau ada pemuka agama yang sering berkotbah tentang  -kasih- , namun ia sering menyiksa mahluk lain, seperti memukuli anjing sampai mati sebelum di sembelih,  atau memasukan anjing itu ke karung lalu membanting – bantingnya sampai mati, atau mencekiknya  sehingga anjing itu tersiksa sebelum akhirnya mati, untuk di sembelih.

Hal tersebut menunjukan bahwa pemuka agama tersebut belum memiliki  -kasih- .  Seorang yang memiliki –kasih- hati nurani nya akan hidup dan berkembang tanpa batas, ia tidak akan tega membuat mahluk lain menderita, dan tidak akan bersenang – senang di atas penderitaan mahluk lain apalagi kalau penderitaan mahluk lain itu akibat ulahnya, seorang yang memiliki  -kasih-  tidak akan senang melihat mahluk lain menderita,  walau pun itu orang yang sering berbuat jahat kepadanya.

Kalau terpaksa menyembelih binatang untuk di makan, pakailah cara atau teknik tertentu agar binatang itu tidak terlalu menderita / tersiksa sewaktu di sembelih.

Seorang yang memiliki sifat  -kasih- terbebas dari rasa benci terhadap siapa pun dan terhadap apa pun juga.

Ia mudah memaklumi kejahatan yang di tujukan kepada nya.

Seseorang yang dengan mudah membenci, apalagi hanya karena iri, dengki,  atau hanya karena di hasut oleh orang lain, hanya menunjukan bahwa orang yang mudah membenci tersebut masih berjiwa rendah.

Kalau ada orang lain berbuat jahat kepada kita, sebaiknya  hanya rasa kesal atau marah saja yang timbul,  tapi jangan sampai membenci.

Rasa kesal dan marah akan memudar dengan sendirinya,  sedangkan rasa benci dapat terus berkepanjangan, dan hanya akan mengotori jiwa kita sendiri.

Sifat benci sudah sering di tanamkan pada jiwa manusia ketika manusia masih anak – anak, terutama oleh pemuka agama yang fanatik. Seperti untuk membenci agama lain, membenci setan, dan lain sebagainya.

Rasa benci yang sudah di tanamkan dari semenjak anak – anak membuat sifat  -kasih- dalam diri manusia tidak dapat berkembang.

Sifat benci yang sudah ada dalam jiwa manusia akan terus berkembang tanpa batas,  sekarang hanya membenci setan, besok – besok akan membenci  yang lainnya,  sehingga semakin banyak sesuatu yang akan di bencinya.

Hanya karena berbeda agama, suku, etnis, dan juga sebab yang lain, kita mudah membenci orang lain.

Padahal secara kenyataan dan fakta orang yang mereka benci, terutama oleh sebab perbedaan, seperti perbedaan agama, etnis dan lainnya, itu sama sekali belum pernah berbuat kesalahan atau pun kejahatan kepada orang yang membencinya itu.

Dalam ajaran agama kita di ajarkan untuk tidak mengikuti ajaran setan, namun bukan untuk membencinya.  Sebab ketika kita sudah memiliki sifat benci, maka pada saat itulah kita juga sudah sama seperti setan.

Masih ingat cerita tentang Adam dan iblis di Al Quran dan Injil ? Dahulu iblis adalah malaikat.  Setelah Adam di ciptakan, iblis langsung membenci Adam di karenakan rasa iri karena Adam di berikan derajat yang lebih baik.

Pada saat rasa benci itu muncul dalam diri malaikat itu, maka pada saat itulah malaikat itu langsung berubah menjadi iblis / setan.

Bukan hanya malaikat yang tiba – tiba dapat berubah menjadi setan / iblis apabila kebencian telah mendominasi dalam jiwa,  mahluk lain pun termasuk manusia dapat berubah menjadi sosok setan / iblis apabila jiwa sudah di penuhi dengan rasa benci.

Untuk memiliki sifat  -kasih-, kita harus bisa membuang semua rasa benci yang ada pada diri kita, rasa benci itu jangan di pendam dalam hatu, tetapi di buang seluruhnya dari hati dan jiwa kita.

Kasihi lah setiap mahluk tanpa persyaratan apa pun dan tanpa batas apa pun.

Dalam kisah Yesus dan iblis,  Yesus pernah di cobai iblis agar Yesus berpaling dari ajaran Allah , namun Yesus sama sekali tidak marah atau pun membenci iblis itu,  sebaliknya  Yesus malah mengasihi serta menasehati iblis itu, agar iblis bertobat dan kembali ke jalan Tuhan.  Yesus sangat mengasihi semua  mahluk termasuk iblis dan setan, bahkan Yesus juga mendoakan iblis, agar suatu saat iblis dapat kembali ke jalan  Tuhan.

Dalam agama Islam juga di ajarkan agar umatnya selalu mengucapkan  bismillah…. ketika akan melakukan sesuatu, yang artinya “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.                                                   Dari kalimat itu jelaslah bahwa sifat  -kasih- di ajarkan dalam semua agama.  Karena  -kasih- adalah energi  vital yang meliputi seluruh alam semesta ini.

Kalau ada orang yang sering berkotbah tentang  -kasih- ,  tetapi dalam melakukan kebaikan masih memilih – milih, apakah obyeknya masih se-agama dengan dia atau tidak, masih satu aliran / sekte atau tidak, masih satu suku / etnis atau tidak, serta masih mencari – cari perbedaan lainnya.  Semua hal tersebut menunjukan bahwa orang itu belum memiliki  -kasih- .

Kasih itu tidak pernah memperhatikan latar belakang.

Kasih itu ikhlas dan universal.  Kasih itu tidak mengharapkan balasan atau pujian dalam bentuk apa pun,  baik tidak mengharapkan balasan di dunia, dan juga tidak mengharapkan balasan di akhirat, serta tidak mengharapkan balasan apa pun baik secara lahiriah maupun bathiniah.  Kasih itu sangat iklas dan tulus.

Seorang yang memiliki  -kasih- dapat melakukan kebaikan tanpa harus di imimng – imingi dengan surga dan pahala,  bisa tidak melakukan kejahatan tanpa harus di takut – takuti dengan dosa / kamma, atau pun azab atau siksa neraka.

Mereka yang mempunyai sifat  -kasih- hati nurani nya hidup dan ber-jiwa ikhlas,  sehingga di iming – imingi istana megah di surga, bidadari cantik bertelanjang dada sudah tidak dapat mempengaruhi mereka lagi,  termasuk janji akan di bangkitkan dengan sukha cita pada hari kebangkitan.

Mereka tidak peduli dengan janji – janji itu, karena  semua yang mereka lakukan tulus dan ikhlas.

Mereka bukanlah anak kecil yang harus di iming – imingi dengan hadiah serta imbalan tertentu agar mau melakukan kebaikan terhadap sesama,  dan tidak perlu di takut – takuti dengan ancaman tertentu supaya tidak melakukan kejahatan terhadap mahluk lainnya.

Hubungan mereka dengan Sang Pencipta adalah hubungan antara Tuhan dan hambanya yang saling mencintai, bukan hubungan antara pedagang dan pembeli.

Jika mereka melakukan amal atau kebaikan lainnya,

Bukan karena mereka menginginkan Tuhan membeli kebaikan serta amal mereka  dengan bayaran pahala dan surga, atau dengan bayaran bidadari cantik dengan istananya yang megah, atau pun bukan agar di bayar supaya di bangkitkan dengan sukha cita pada hari kebangkitan nanti.

Karena  -kasih- itu bukanlah pengharapan, tapi ketulusan dan keikhlasan yang bersumber dari pencerahan murni dan kesadaran murni.

 

 

 

 

 

Karya lainnya juga saya tulis pada :

http://www.kompasiana.com/vm2insert

http://vazamurfi-ensklopedia.blogspot.com

RAMALAN DAN INDERA KEENAM :

http://vm2insert6.wordpress.com

UMUM :

http://vm2xy4.wordpress.com

http://islamkaffah-zhaimar.blogspot.com

dan lain – lain.

Posted May 31, 2012 by vm2insert in Uncategorized

BHINEKA TUNGGAL IKA   Leave a comment

BHINEKA  berarti aneka, keaneka ragaman, berbeda – beda, bermacam – macam.

TUNGGAL  berarti satu.

IKA  artinya itu, menjadi itu.

BHINEKA TUNGGAL IKA  berarti berbeda – beda, bermacam – macam, beraneka ragam, semuannya menjadi yang satu itu, semuanya berada dalam yang satu  itu, dan semua menjadi yang satu itu,  jadilah SATU.

Makna dari BHINEKA TUNGGAL IKA adalah berbeda – beda negara, bangsa, suku, etnis, kebudayaan, adat, bahasa, agama, kepercayaan,  berbeda – beda wujud, ada wujud halus ( jin, malaikat, dsb ),  ada wujud kasar / fisik ( manusia, binatang, dsb ), ada tumbuhan,

Ada cacing di tanah, ada bakteri, ada virus, dsb.  Semuanya adalah SATU,                                        satu langit, satu bumi, satu alam semesta, satu jagat raya, satu Sang Pencipta, satu Tuhan.

Dalam bhagavad gita Krishna menjelaskan kepada Arjuna bahwa semua yang ada di alam semesta ini tanpa terkecuali sedang menuju kepada NYA  (maksudnya Tuhan).  Bagaimana pun manusia melakukan persembahan kepada NYA, sesuai petunjuk kitab – kitab suci (sembahyang, -YANG maksudnya Tuhan, jadi maksud kata sembahyang berarti menyembah Tuhan), bagaimana pun mahluknya melakukam ibadah atau ritual, sesuai dengan kepercayaan atau agama mereka masing – masing,  asalkan niatnya di tujukan kepada NYA, yang telah menciptakan seluruh jagad raya ini, apa pun sebutannya,  Yang Maha ini…,  Yang Maha itu…,  Sang Yang ini…,  Sang Yang itu…,  Krishna menjelaskan semua persembahan tersebut akan sampai kepada NYA.  (bhagavad gita)

HARMONIS DENGAN ALAM

Pada suatu hari para pandawa pernah di tugaskan untuk menjaga ritual keagamaan yang di lakukan oleh para guru mereka, di tengah hutan belantara.  Sebab di hutan tersebut banyak raja para jin yang sering mengganggu.

Krishna juga ikut menemani para pandawa untuk menjaga ritual keagamaan tersebut dengan cara bergiliran pada tiap malamnya, dan Krishna mendapat giliran paling terakhir.

Ketika giliran para pandawa yang menjaga, banyak sekali serangan dan gangguan dari para mahluk halus yang sangat sakti, sehingga para pandawa sangat kwalahan menghadapinya, padahal berbagai kesaktian dan juga semua senjata pusaka yang sangat ampuh sudah di pergunakan oleh para pandawa untuk menghadapi gangguan dan serangan itu,  namun tetap saja para pandawa sangat kerepotan,  dan juga sangat kesulitan menghadapinya.

Pada malam terakhir giliran Krishna yang menjaga,   ketika Krishna berjaga ia sangat santai dan tidak membawa senjata apa pun, dan juga tidak melakukan persiapan khusus seperti yang di lakukan oleh para pandawa pada hari sebelumnya.

Namun,  ada yang lain pada malam itu pada saat Krishna berjaga,  yaitu seluruh hutan kelihatan sangat tenang, aman dan sangat terasa damai,  bahkan sama sekali tidak ada serangan dari mahluk halus mana pun yang pada malam sebelumnya selalu mengganggu ketika para pandawa yang berjaga.

Para pandawa sangat heran dengan kejadian tersebut.   Keesokan harinya mereka menanyakan kejadian itu kepada Krisna.

“Arjuna langsung berkata pada Krishna :

Saudaraku mengapa tadi malam pada saat kau berjaga,  hutan ini sangat tenang, bahkan tidak ada satu mahluk halus pun yang mengganggu ?”.

Krishna menjawab :

“Selama ini kalian membenci mereka,  dan kebencian kalian pada mahluk lainnya juga banyak.  Rasa benci yang ada pada diri kalian mudah di rasakan oleh para mahluk halus,  kalau kalian mengarahkan rasa benci itu kepada mahluk halus, maka mereka akan membalasnya dengan cara mengganggu atau menyerang kalian.   Rasa benci kepada mahluk lain pun akan membuat pola energi kalian menjadi seperti tajam dan juga seperti kotor.   Pola energi yang seperti itu sangat mudah di rasakan oleh mahluk yang berbadan halus dan sangat mengganggu mereka,   sehingga jika kalian memasuki tempat – tempat yang di huni oleh mereka,  maka mereka dapat mengganggu kalian,  sebab kebencian yang terpancar dari jiwa kalian walaupun kalian tidak menyadarinya, dapat mengganggu ketentraman dan kenyamanan mahluk yang bebadan halus.”

Krishna menambahkan :

“Aku tidak pernah membenci mereka dan juga mahluk apa pun.  Aku mengasihi dan mencintai semua mahluk tanpa syarat dan tanpa batas apa pun, dan aku tidak pernah berniat buruk sedikit pun kepada mereka.   Jadi wajarlah jika para mahluk halus itu tidak ada yang mengganggu aku.”       Demikianlah Krishna menjelaskan untuk memberi ajaran – kasih – kepada pandawa.

KASIH

Kasih dan mengasihani alias kasihan adalah hal yang sangat berbeda.  Kasih timbul dari kesadaran murni dan juga dari pencerahan.  Sementara kasihan timbul dari ego.

Seorang yang merasa kasihan terhadap suatu obyek, suatu waktu dapat membenci obyek itu. Karena rasa benci dan kasihan berasal dari ego yang sama.

Baik buruk, sukha dukha, pemarah sabar, jahat alim, kasar halus, dan semua sifat yang memiliki pasangan saling bertentangan berasal dari ego.

Kasih  adalah tunggal.  Dan tidak memiliki  pasangan lainnya.  Kasihan memerlukan syarat – syarat tertentu,  sedangkan –kasih- tidak pernah bersyarat dan juga tidak pernah terbatas.

Kasih itu universal,  tidak membedakan suku, etnis, bangsa, agama, kepercayaan, derajat, latar belakang, baik atau jahat, atau pun persyaratan lainnya.

Krishna mengatakan bahwa –kasih- adalah sumber penciptaan, sumber dari seluruh kehidupan, dan juga energi vital bagi seluruh penciptaan dan kehidupan itu sendiri.

Seluruh kekuatan alam tunduk pada energi kasih.

Semua kekuatan alam dan semua kesaktian yang ada, termasuk yang terdapat pada benda pusaka apa pun, termasuk kekuatan dan kesaktian yang di miliki oleh para Dewa dapat di taklukan dengan energi –kasih- .

Itulah sebabnya Shidarta Gautama, dan juga orang lain yang memiliki sifat  -kasih- dapat dengan mudah mengalahkan para raja siluman yang sangat sakti, dan juga mudah sekali menaklukan senjata pusaka yang menyerang mereka.

Kalau ada pemuka agama yang sering berkotbah tentang  -kasih- , namun ia sering menyiksa mahluk lain, seperti memukuli anjing sampai mati sebelum di sembelih,  atau memasukan anjing itu ke karung lalu membanting – bantingnya sampai mati, atau mencekiknya  sehingga anjing itu tersiksa sebelum akhirnya mati, untuk di sembelih.                 Hal tersebut menunjukan bahwa pemuka agama tersebut belum memiliki  -kasih- .  Seorang yang memiliki –kasih- hati nurani nya akan hidup dan berkembang tanpa batas, ia tidak akan tega membuat mahluk lain menderita, dan tidak akan bersenang – senang di atas penderitaan mahluk lain apalagi kalau penderitaan mahluk lain itu akibat ulahnya, seorang yang memiliki  -kasih-  tidak akan senang melihat mahluk lain menderita,  walau pun itu orang yang sering berbuat jahat kepadanya.

Kalau terpaksa menyembelih binatang untuk di makan, pakailah cara atau teknik tertentu agar binatang itu tidak terlalu menderita / tersiksa sewaktu di sembelih.

Seorang yang memiliki sifat  -kasih- terbebas dari rasa benci terhadap siapa pun dan terhadap apa pun juga.

Ia mudah memaklumi kejahatan yang di tujukan kepada nya.

Seseorang yang dengan mudah membenci, apalagi hanya karena iri, dengki,  atau hanya karena di hasut oleh orang lain, hanya menunjukan bahwa orang yang mudah membenci tersebut masih berjiwa rendah.

Kalau ada orang lain berbuat jahat kepada kita, sebaiknya  hanya rasa kesal atau marah saja yang timbul,  tapi jangan sampai membenci.

Rasa kesal dan marah akan memudar dengan sendirinya,  sedangkan rasa benci dapat terus berkepanjangan, dan hanya akan mengotori jiwa kita sendiri.

Sifat benci sudah sering di tanamkan pada jiwa manusia ketika manusia masih anak – anak, terutama oleh pemuka agama yang fanatik. Seperti untuk membenci agama lain, membenci setan, dan lain sebagainya.

Rasa benci yang sudah di tanamkan dari semenjak anak – anak membuat sifat  -kasih- dalam diri manusia tidak dapat berkembang.

Sifat benci yang sudah ada dalam jiwa manusia akan terus berkembang tanpa batas,  sekarang hanya membenci setan, besok – besok akan membenci  yang lainnya,  sehingga semakin banyak sesuatu yang akan di bencinya.

Hanya karena berbeda agama, suku, etnis, dan juga sebab yang lain, kita mudah membenci orang lain.

Padahal secara kenyataan dan fakta orang yang mereka benci, terutama oleh sebab perbedaan, seperti perbedaan agama, etnis dan lainnya, itu sama sekali belum pernah berbuat kesalahan atau pun kejahatan kepada orang yang membencinya itu.

Dalam ajaran agama kita di ajarkan untuk tidak mengikuti ajaran setan, namun bukan untuk membencinya.  Sebab ketika kita sudah memiliki sifat benci, maka pada saat itulah kita juga sudah sama seperti setan.

Masih ingat cerita tentang Adam dan iblis di Al Quran dan Injil ? Dahulu iblis adalah malaikat.    Setelah Adam di ciptakan, iblis langsung membenci Adam di karenakan rasa iri karena Adam di berikan derajat yang lebih baik.

Pada saat rasa benci itu muncul dalam diri malaikat itu, maka pada saat itulah malaikat itu langsung berubah menjadi iblis / setan.

Bukan hanya malaikat yang tiba – tiba dapat berubah menjadi setan / iblis apabila kebencian telah mendominasi dalam jiwa,  mahluk lain pun termasuk manusia dapat berubah menjadi sosok setan / iblis apabila jiwa sudah di penuhi dengan rasa benci.

Untuk memiliki sifat  -kasih-, kita harus bisa membuang semua rasa benci yang ada pada diri kita, rasa benci itu jangan di pendam dalam hatu, tetapi di buang seluruhnya dari hati dan jiwa kita.

Kasihi lah setiap mahluk tanpa persyaratan apa pun dan tanpa batas apa pun.

Dalam kisah Yesus dan iblis,  Yesus pernah di cobai iblis agar Yesus berpaling dari ajaran Allah , namun Yesus sama sekali tidak marah atau pun membenci iblis itu,  sebaliknya  Yesus malah mengasihi serta menasehati iblis itu, agar iblis bertobat dan kembali ke jalan Tuhan.  Yesus sangat mengasihi semua  mahluk termasuk iblis dan setan, bahkan Yesus juga mendoakan iblis, agar suatu saat iblis dapat kembali ke jalan  Tuhan.

Dalam agama Islam juga di ajarkan agar umatnya selalu mengucapkan  bismillah…. ketika akan melakukan sesuatu, yang artinya “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.                            Dari kalimat itu jelaslah bahwa sifat  -kasih- di ajarkan dalam semua agama.  Karena  -kasih- adalah energi  vital yang meliputi seluruh alam semesta ini.

Kalau ada orang yang sering berkotbah tentang  -kasih- ,  tetapi dalam melakukan kebaikan masih memilih – milih, apakah obyeknya masih se-agama dengan dia atau tidak, masih satu aliran / sekte atau tidak, masih satu suku / etnis atau tidak, serta masih mencari – cari perbedaan lainnya.  Semua hal tersebut menunjukan bahwa orang itu belum memiliki  -kasih- .

Kasih itu tidak pernah memperhatikan latar belakang.

Kasih itu ikhlas dan universal.  Kasih itu tidak mengharapkan balasan atau pujian dalam bentuk apa pun,  baik tidak mengharapkan balasan di dunia, dan juga tidak mengharapkan balasan di akhirat, serta tidak mengharapkan balasan apa pun baik secara lahiriah maupun bathiniah.  Kasih itu sangat iklas dan tulus.

Seorang yang memiliki  -kasih- dapat melakukan kebaikan tanpa harus di imimng – imingi dengan surga dan pahala,  bisa tidak melakukan kejahatan tanpa harus di takut – takuti dengan dosa / kamma, atau pun azab atau siksa neraka.

Mereka yang mempunyai sifat  -kasih- hati nurani nya hidup dan ber-jiwa ikhlas,  sehingga di iming – imingi istana megah di surga, bidadari cantik bertelanjang dada sudah tidak dapat mempengaruhi mereka lagi,  termasuk janji akan di bangkitkan dengan sukha cita pada hari kebangkitan.

Mereka tidak peduli dengan janji – janji itu, karena  semua yang mereka lakukan tulus dan ikhlas.

Mereka bukanlah anak kecil yang harus di iming – imingi dengan hadiah serta imbalan tertentu agar mau melakukan kebaikan terhadap sesama,  dan tidak perlu di takut – takuti dengan ancaman tertentu supaya tidak melakukan kejahatan terhadap mahluk lainnya.

Hubungan mereka dengan Sang Pencipta adalah hubungan antara Tuhan dan hambanya yang saling mencintai, bukan hubungan antara pedagang dan pembeli.

Jika mereka melakukan amal atau kebaikan lainnya,

Bukan karena mereka menginginkan Tuhan membeli kebaikan serta amal mereka  dengan bayaran pahala dan surga, atau dengan bayaran bidadari cantik dengan istananya yang megah, atau pun bukan agar di bayar supaya di bangkitkan dengan sukha cita pada hari kebangkitan nanti.

Karena  -kasih- itu bukanlah pengharapan, tapi ketulusan dan keikhlasan yang bersumber dari pencerahan murni dan kesadaran murni.

Karya lainnya juga saya tulis pada :

http://www.kompasiana.com/vm2insert

http://vazamurfi-ensklopedia.blogspot.com

RAMALAN DAN INDERA KEENAM :

http://vm2insert6.wordpress.com

UMUM :

http://vm2xy4.wordpress.com

http://islamkaffah-zhaimar.blogspot.com

dan lain – lain.

Posted May 31, 2012 by vm2insert in Uncategorized

  Leave a comment

BHINEKA  berarti aneka, keaneka ragaman, berbeda – beda, bermacam – macam.

TUNGGAL  berarti satu.

IKA  artinya itu, menjadi itu.

BHINEKA TUNGGAL IKA  berarti berbeda – beda, bermacam – macam, beraneka ragam, semuannya menjadi yang satu itu, semuanya berada dalam yang satu  itu, dan semua menjadi yang satu itu,  jadilah SATU.

Makna dari BHINEKA TUNGGAL IKA adalah berbeda – beda negara, bangsa, suku, etnis, kebudayaan, adat, bahasa, agama, kepercayaan,  berbeda – beda wujud, ada wujud halus ( jin, malaikat, dsb ),  ada wujud kasar / fisik ( manusia, binatang, dsb ), ada tumbuhan,

Ada cacing di tanah, ada bakteri, ada virus, dsb.  Semuanya adalah SATU,              satu langit, satu bumi, satu alam semesta, satu jagat raya, satu Sang Pencipta, satu Tuhan.

Dalam bhagavad gita Krishna menjelaskan kepada Arjuna bahwa semua yang ada di alam semesta ini tanpa terkecuali sedang menuju kepada NYA  (maksudnya Tuhan).  Bagaimana pun manusia melakukan persembahan kepada NYA, sesuai petunjuk kitab – kitab suci (sembahyang, -YANG maksudnya Tuhan, jadi maksud kata sembahyang berarti menyembah Tuhan), bagaimana pun mahluknya melakukam ibadah atau ritual, sesuai dengan kepercayaan atau agama mereka masing – masing,  asalkan niatnya di tujukan kepada NYA, yang telah menciptakan seluruh jagad raya ini, apa pun sebutannya,  Yang Maha ini…,  Yang Maha itu…,  Sang Yang ini…,  Sang Yang itu…,  Krishna menjelaskan semua persembahan tersebut akan sampai kepada NYA.  (bhagavad gita)

 

HARMONIS DENGAN ALAM

Pada suatu hari para pandawa pernah di tugaskan untuk menjaga ritual keagamaan yang di lakukan oleh para guru mereka, di tengah hutan belantara.  Sebab di hutan tersebut banyak raja para jin yang sering mengganggu.

Krishna juga ikut menemani para pandawa untuk menjaga ritual keagamaan tersebut dengan cara bergiliran pada tiap malamnya, dan Krishna mendapat giliran paling terakhir.

Ketika giliran para pandawa yang menjaga, banyak sekali serangan dan gangguan dari para mahluk halus yang sangat sakti, sehingga para pandawa sangat kwalahan menghadapinya, padahal berbagai kesaktian dan juga semua senjata pusaka yang sangat ampuh sudah di pergunakan oleh para pandawa untuk menghadapi gangguan dan serangan itu,  namun tetap saja para pandawa sangat kerepotan,  dan juga sangat kesulitan menghadapinya.

Pada malam terakhir giliran Krishna yang menjaga,   ketika Krishna berjaga ia sangat santai dan tidak membawa senjata apa pun, dan juga tidak melakukan persiapan khusus seperti yang di lakukan oleh para pandawa pada hari sebelumnya.

Namun,  ada yang lain pada malam itu pada saat Krishna berjaga,  yaitu seluruh hutan kelihatan sangat tenang, aman dan sangat terasa damai,  bahkan sama sekali tidak ada serangan dari mahluk halus mana pun yang pada malam sebelumnya selalu mengganggu ketika para pandawa yang berjaga.

Para pandawa sangat heran dengan kejadian tersebut.   Keesokan harinya mereka menanyakan kejadian itu kepada Krisna.

“Arjuna langsung berkata pada Krishna :

Saudaraku mengapa tadi malam pada saat kau berjaga,  hutan ini sangat tenang, bahkan tidak ada satu mahluk halus pun yang mengganggu ?”.

Krishna menjawab :

“Selama ini kalian membenci mereka,  dan kebencian kalian pada mahluk lainnya juga banyak.  Rasa benci yang ada pada diri kalian mudah di rasakan oleh para mahluk halus,  kalau kalian mengarahkan rasa benci itu kepada mahluk halus, maka mereka akan membalasnya dengan cara mengganggu atau menyerang kalian.   Rasa benci kepada mahluk lain pun akan membuat pola energi kalian menjadi seperti tajam dan juga seperti kotor.   Pola energi yang seperti itu sangat mudah di rasakan oleh mahluk yang berbadan halus dan sangat mengganggu mereka,   sehingga jika kalian memasuki tempat – tempat yang di huni oleh mereka,  maka mereka dapat mengganggu kalian,  sebab kebencian yang terpancar dari jiwa kalian walaupun kalian tidak menyadarinya, dapat mengganggu ketentraman dan kenyamanan mahluk yang bebadan halus.”

Krishna menambahkan :

“Aku tidak pernah membenci mereka dan juga mahluk apa pun.  Aku mengasihi dan mencintai semua mahluk tanpa syarat dan tanpa batas apa pun, dan aku tidak pernah berniat buruk sedikit pun kepada mereka.   Jadi wajarlah jika para mahluk halus itu tidak ada yang mengganggu aku.”               Demikianlah Krishna menjelaskan untuk memberi ajaran – kasih – kepada pandawa.

 

KASIH

Kasih dan mengasihani alias kasihan adalah hal yang sangat berbeda.  Kasih timbul dari kesadaran murni dan juga dari pencerahan.  Sementara kasihan timbul dari ego.

Seorang yang merasa kasihan terhadap suatu obyek, suatu waktu dapat membenci obyek itu. Karena rasa benci dan kasihan berasal dari ego yang sama.

Baik buruk, sukha dukha, pemarah sabar, jahat alim, kasar halus, dan semua sifat yang memiliki pasangan saling bertentangan berasal dari ego.

Kasih  adalah tunggal.  Dan tidak memiliki  pasangan lainnya.  Kasihan memerlukan syarat – syarat tertentu,  sedangkan –kasih- tidak pernah bersyarat dan juga tidak pernah terbatas.

Kasih itu universal,  tidak membedakan suku, etnis, bangsa, agama, kepercayaan, derajat, latar belakang, baik atau jahat, atau pun persyaratan lainnya.

Krishna mengatakan bahwa –kasih- adalah sumber penciptaan, sumber dari seluruh kehidupan, dan juga energi vital bagi seluruh penciptaan dan kehidupan itu sendiri.

Seluruh kekuatan alam tunduk pada energi kasih.

Semua kekuatan alam dan semua kesaktian yang ada, termasuk yang terdapat pada benda pusaka apa pun, termasuk kekuatan dan kesaktian yang di miliki oleh para Dewa dapat di taklukan dengan energi –kasih- .

Itulah sebabnya Shidarta Gautama, dan juga orang lain yang memiliki sifat  -kasih- dapat dengan mudah mengalahkan para raja siluman yang sangat sakti, dan juga mudah sekali menaklukan senjata pusaka yang menyerang mereka.

Kalau ada pemuka agama yang sering berkotbah tentang  -kasih- , namun ia sering menyiksa mahluk lain, seperti memukuli anjing sampai mati sebelum di sembelih,  atau memasukan anjing itu ke karung lalu membanting – bantingnya sampai mati, atau mencekiknya  sehingga anjing itu tersiksa sebelum akhirnya mati, untuk di sembelih.            Hal tersebut menunjukan bahwa pemuka agama tersebut belum memiliki  -kasih- .  Seorang yang memiliki –kasih- hati nurani nya akan hidup dan berkembang tanpa batas, ia tidak akan tega membuat mahluk lain menderita, dan tidak akan bersenang – senang di atas penderitaan mahluk lain apalagi kalau penderitaan mahluk lain itu akibat ulahnya, seorang yang memiliki  -kasih-  tidak akan senang melihat mahluk lain menderita,  walau pun itu orang yang sering berbuat jahat kepadanya.

Kalau terpaksa menyembelih binatang untuk di makan, pakailah cara atau teknik tertentu agar binatang itu tidak terlalu menderita / tersiksa sewaktu di sembelih.

Seorang yang memiliki sifat  -kasih- terbebas dari rasa benci terhadap siapa pun dan terhadap apa pun juga.

Ia mudah memaklumi kejahatan yang di tujukan kepada nya.

Seseorang yang dengan mudah membenci, apalagi hanya karena iri, dengki,  atau hanya karena di hasut oleh orang lain, hanya menunjukan bahwa orang yang mudah membenci tersebut masih berjiwa rendah.

Kalau ada orang lain berbuat jahat kepada kita, sebaiknya  hanya rasa kesal atau marah saja yang timbul,  tapi jangan sampai membenci.

Rasa kesal dan marah akan memudar dengan sendirinya,  sedangkan rasa benci dapat terus berkepanjangan, dan hanya akan mengotori jiwa kita sendiri.

Sifat benci sudah sering di tanamkan pada jiwa manusia ketika manusia masih anak – anak, terutama oleh pemuka agama yang fanatik. Seperti untuk membenci agama lain, membenci setan, dan lain sebagainya.

Rasa benci yang sudah di tanamkan dari semenjak anak – anak membuat sifat  -kasih- dalam diri manusia tidak dapat berkembang.

Sifat benci yang sudah ada dalam jiwa manusia akan terus berkembang tanpa batas,  sekarang hanya membenci setan, besok – besok akan membenci  yang lainnya,  sehingga semakin banyak sesuatu yang akan di bencinya.

Hanya karena berbeda agama, suku, etnis, dan juga sebab yang lain, kita mudah membenci orang lain.

Padahal secara kenyataan dan fakta orang yang mereka benci, terutama oleh sebab perbedaan, seperti perbedaan agama, etnis dan lainnya, itu sama sekali belum pernah berbuat kesalahan atau pun kejahatan kepada orang yang membencinya itu.

Dalam ajaran agama kita di ajarkan untuk tidak mengikuti ajaran setan, namun bukan untuk membencinya.  Sebab ketika kita sudah memiliki sifat benci, maka pada saat itulah kita juga sudah sama seperti setan.

Masih ingat cerita tentang Adam dan iblis di Al Quran dan Injil ? Dahulu iblis adalah malaikat.        Setelah Adam di ciptakan, iblis langsung membenci Adam di karenakan rasa iri karena Adam di berikan derajat yang lebih baik.

Pada saat rasa benci itu muncul dalam diri malaikat itu, maka pada saat itulah malaikat itu langsung berubah menjadi iblis / setan.

Bukan hanya malaikat yang tiba – tiba dapat berubah menjadi setan / iblis apabila kebencian telah mendominasi dalam jiwa,  mahluk lain pun termasuk manusia dapat berubah menjadi sosok setan / iblis apabila jiwa sudah di penuhi dengan rasa benci.

Untuk memiliki sifat  -kasih-, kita harus bisa membuang semua rasa benci yang ada pada diri kita, rasa benci itu jangan di pendam dalam hatu, tetapi di buang seluruhnya dari hati dan jiwa kita.

Kasihi lah setiap mahluk tanpa persyaratan apa pun dan tanpa batas apa pun.

Dalam kisah Yesus dan iblis,  Yesus pernah di cobai iblis agar Yesus berpaling dari ajaran Allah , namun Yesus sama sekali tidak marah atau pun membenci iblis itu,  sebaliknya  Yesus malah mengasihi serta menasehati iblis itu, agar iblis bertobat dan kembali ke jalan Tuhan.  Yesus sangat mengasihi semua  mahluk termasuk iblis dan setan, bahkan Yesus juga mendoakan iblis, agar suatu saat iblis dapat kembali ke jalan  Tuhan.

Dalam agama Islam juga di ajarkan agar umatnya selalu mengucapkan  bismillah…. ketika akan melakukan sesuatu, yang artinya “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.              Dari kalimat itu jelaslah bahwa sifat  -kasih- di ajarkan dalam semua agama.  Karena  -kasih- adalah energi  vital yang meliputi seluruh alam semesta ini.

Kalau ada orang yang sering berkotbah tentang  -kasih- ,  tetapi dalam melakukan kebaikan masih memilih – milih, apakah obyeknya masih se-agama dengan dia atau tidak, masih satu aliran / sekte atau tidak, masih satu suku / etnis atau tidak, serta masih mencari – cari perbedaan lainnya.  Semua hal tersebut menunjukan bahwa orang itu belum memiliki  -kasih- .

Kasih itu tidak pernah memperhatikan latar belakang.

Kasih itu ikhlas dan universal.  Kasih itu tidak mengharapkan balasan atau pujian dalam bentuk apa pun,  baik tidak mengharapkan balasan di dunia, dan juga tidak mengharapkan balasan di akhirat, serta tidak mengharapkan balasan apa pun baik secara lahiriah maupun bathiniah.  Kasih itu sangat iklas dan tulus.

Seorang yang memiliki  -kasih- dapat melakukan kebaikan tanpa harus di imimng – imingi dengan surga dan pahala,  bisa tidak melakukan kejahatan tanpa harus di takut – takuti dengan dosa / kamma, atau pun azab atau siksa neraka.

Mereka yang mempunyai sifat  -kasih- hati nurani nya hidup dan ber-jiwa ikhlas,  sehingga di iming – imingi istana megah di surga, bidadari cantik bertelanjang dada sudah tidak dapat mempengaruhi mereka lagi,  termasuk janji akan di bangkitkan dengan sukha cita pada hari kebangkitan.

Mereka tidak peduli dengan janji – janji itu, karena  semua yang mereka lakukan tulus dan ikhlas.

Mereka bukanlah anak kecil yang harus di iming – imingi dengan hadiah serta imbalan tertentu agar mau melakukan kebaikan terhadap sesama,  dan tidak perlu di takut – takuti dengan ancaman tertentu supaya tidak melakukan kejahatan terhadap mahluk lainnya.

Hubungan mereka dengan Sang Pencipta adalah hubungan antara Tuhan dan hambanya yang saling mencintai, bukan hubungan antara pedagang dan pembeli.

Jika mereka melakukan amal atau kebaikan lainnya,

Bukan karena mereka menginginkan Tuhan membeli kebaikan serta amal mereka  dengan bayaran pahala dan surga, atau dengan bayaran bidadari cantik dengan istananya yang megah, atau pun bukan agar di bayar supaya di bangkitkan dengan sukha cita pada hari kebangkitan nanti.

Karena  -kasih- itu bukanlah pengharapan, tapi ketulusan dan keikhlasan yang bersumber dari pencerahan murni dan kesadaran murni.

Karya lainnya juga saya tulis pada :

http://www.kompasiana.com/vm2insert

http://vazamurfi-ensklopedia.blogspot.com

RAMALAN DAN INDERA KEENAM :

http://vm2insert6.wordpress.com

UMUM :

http://vm2xy4.wordpress.com

http://islamkaffah-zhaimar.blogspot.com

dan lain – lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted May 31, 2012 by vm2insert in Uncategorized

3318090434_fca9e9e737_s   Leave a comment

3318090434_fca9e9e737_s

Posted May 31, 2012 by vm2insert in Uncategorized

LINTAS BUDAYA DAN AGAMA   Leave a comment

 

Seseorang memberi komentar kepada masternya yang masih se-agama, “bahwa menurut kitab suci kita mengatakan agama itu dan ini tidaklah rela sebelum orang – orang dari agama kita berpindah ke agama mereka”.

Sang master dengan tenang menjawab. “Apakah kamu tidak memperhatikan, orang – orang dari agama kita pun sama agar semua manusia harus se-agama dengan kita. Kita pun tidak ikhlas sebelum orang yang beragama lain pindah ke agama kita.”

Muridnya terdiam sebentar, lalu egonya muncul kembali. “Tapi menurut kitab suci memang seharusnya agama kita kaffah/menyeluruh.”

“Yang kaffah/menyeluruh adalah lahir dan batin kita, seluruh jasmani dan rohani kita dalam menjalankan agama kita itu.  Selama ini kita belum kaffah, yang beragama baru fisik kita saja, hanya status saja, tapi jiwa kita belum beragama. Kita cuma mengaku beragama, tapi ajaranya tidak pernah kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Kaffah itu maksudnya seluruh jiwa dan raga, seluruh jasmani dan rohani, seluruh pikiran dan hati.”Jawab sang master.

Muridnya diam lagi, sesaat kemudian pikirannya membandingkan lagi. “Menurut agama tertentu seseorang bisa lahir kembali ke dunia ini, padahal di kitab suci agama kita menyebutkan bahwa orang yang sudah mati tidak akan dapat kembali ke dunia ini.”

Sang master menjelaskan. “Kamu lihat saja kenyataan, banyak kok orang yang sudah meninggal selama beberapa hari, seminggu, sebulan, bahkan setahun bisa hidup lagi alias mati suri, dan itu terjadi pada semua agama setiap kepercayaan.”

“Jadi bagaimana dengan ayat yang ada di kitab suci kita itu?” sang murid bingung.

“Yang salah bukan kitab sucinya, tapi yang menerjemahkannya. Jumlah kata dari setiap bahasa dalam suku/etnis dan negara, itu jumlah kata nya berbeda – beda.

Ada suku bangsa yang jimlah suku kata nya lebih banyak, ada suku bangsa yang jumlah suku kata nya lebih sedikit.

Itulah sebabnya untuk menerjemahkan sebuah kitab suci ke dalam bahasa bangsa tertentu para penterjemah harus menggunakan kata lainnya yang di anggap menyerupai padahal artinya bisa sangat berbeda, apalagi zaman dahulu belum ada kata – kata serapan dari bahasa lain, setiap suku hanya menggunakan bahasa aslinya sendiri tanpa tercampur bahasa lain, apalagi zaman dahulu tidak ada ahli bahasa seperti zaman sekarang ini. Itulah sebabnya sering terjadi perbedaan tafsir dalam kitab suci.” Jawab sang master menjelaskan.

“Tapi kalau benar kita bisa lahir lagi, kenapa kita tidak bisa mengingat?” tegas sang murid.

“Seminggu yang lalu kamu pakai baju apa, kamu sudah lupa, sebulan yang lalu kamu berbuat apa, juga lupa,’ disuruh mengingat minggu kemarin kamu pakai baju apa, ya..kamu susah untuk mengingatnya, bahkan tidak bisa mengingat sama sekali, padahal baru kejadian seminggu yang lalu. Lihat orang yang mengalami Amnesia berat, seluruh memori ingatannya hilang semuanya, bahkan sampai ajal menjemput ia tidak mengenali jati dirinya sebelum mengalami Amnesia, padahal ia waras dan sama sekali tidak gila.  Kalau umur kamu sekarang sudah di atas 30 tahun dan pernah bersekolah, coba kamu ingat – ingat seluruh kejadian waktu bersekolah di sekolah dasar SD yang memakan waktu 6 tahun. Hitung jumlah waktu yang dapat kamu ingat dari kelas 1 sampai kelas 6. Kejadian – kejadian yang dapat kamu ingat semuanya dari kelas 1 sampai kelas 6 , kalau kamu hitung seluruh volume ingatanya dengan ukuran waktu, paling kamu mengingatnya hanya sekitar 15 menit sampai 1 jam. Padahal kamu sekolah SD sampai 6 tahun. Itupun mengingatnya sangat susah, harus konsentrasi segala, yang di ingatnya pun sangat sedikit, bahkan tidak ingat sama sekali.” tutur sang master. “Ada seorang anak lahir di Indonesia dan berada di negrinya sampai usia 10 tahun, dan ia sudah lancar berbahasa Indonesia. Setelah itu ia pindah ke Inggris mengikuti orang tuanya yang bekerja di sana. Selama di inggris ia tidak pernah lagi menggunakan bahasa Indonesia, temanya orang inggris semua, keluarganya juga menggunakan bahasa inggris dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sudah berusia 70 tahun ia kembali ke Indonesia. Apa yang terjadi,….Ternyata ia sama sekali lupa bahasa indonesia, padahal sewaktu kecil ia sudah lancar berbahasa Indonesia”.

Sang murid berkomentar kembali, “Menurut kitab suci sesungguhnya seorang anak yang baru lahir dalam keadaan……, orang tua nya lah yang menyebabkan ia beragama ini dan itu.”

Sang master menjawab,: “Agama kita berarti berserah diri kepada Tuhan, ada juga yang mengartikan selamat. Selama ini kita belum berserah diri, berarti kita belum……,
orang yang beragama dan berkepercayaan apa pun, kalau ia sudah berserah diri kepada Tuhan yang telah menciptakan seluruh semesta ini, maka ia sudah……..,(yang artinya berserah diri kepada Tuhan), Seperti doa yang pernah di ajarkan Yesus – ‘Tuhan, jadilah hanya atas kehendakMu saja, bukan atas kehendakku dan juga bukan atas kehendak kami, karena Engkaulah yang mengetahui apa yang terbaik bagi seluruh mahlukmu’-, dan juga ayat al- fatihah yang berbunyi -‘ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.’-

“Doa-doa seperti itu mencerminkan penyerahan diri secara total kepada Tuhan.”

Ketika bayi lahir, ia dalam keadaan  berserah diri, setelah tumbuh dewasa ia mulai berkehendak dan berkeinginan yang kadang – kadang keinginannya bertentangan dengan kehendak Tuhan, pada saat itulah ia sudah mulai tidak berserah diri lagi kepada kehendak Tuhan.”

NIAT BAIK

Sering beberapa orang menganggap semua garis besar pengetahuan Tuhan sudah ada semua dalam kitab suci mereka. Itu sama saja menganggap Tuhan mereka bodoh karena pengetahuannya hanya sebatas dan hanya setebal kitab suci mereka.

Padahal ilmu dan pengetahuan Tuhan itu tidak ada batasnya dan tidak pernah terbatas. Mana mungkin ilmu Tuhan yang sangat banyak dan tidak ada batasnya itu cukup bila hanya di tulis dalam kitab suci mereka yang hanya setebal itu.

Al-Quran juga menyebutkan dalam salah satu ayatnya, -Bahwa jika seluruh daun di bumi ini di jadikan kertasnya, dan seluruh lautan di jadikan tinta nya, maka semua itu tidak akan pernah cukup untuk menulis ilmu Allah.-

Pengetahuan yang di berikan dalam semua kitab suci selalu di sesuaikan dengan kondisi umat penerima, karena pada dasarnya kondisi serta keadaan setiap kaum dan setiap zaman selalu berbeda. Namun isi dari semua kitab suci selalu universal dan di peruntukan bagi siapa saja dan apa saja yan mau mempelajarinya. Jadi bukan hanya untuk agama dan umat tertentu saja, tapi untuk semua mahluk yang mau mempelajarinya dan juga yang mau mengamalkannya.

Sayangnya beberapa orang mempelajari kitab suci dari agama lain niatnya sudah jelek duluan, antara lain untuk mencari kelemahan dari agama lain, agar suatu hari  mereka bisa menjelek-jelekan agama lain. Bahkan di sekolah – sekolah agama tertentu mereka di ajari mempelajari kitab suci dari agama lain, namun niatnya hanya untuk menjelekan agama lain.

Seorang yang mempelajari kitab suci dari agama lain dengan niat jelek, tentu akan salah tafsir dan tidak akan mengerti.Yang lucu ada diantara mereka yang tidak pernah mempelajari kitab suci dari agama lain serta tidak pernah membacanya sama sekali, namun mereka bisa menjelekan dan menghina agama itu, ketika mereka membicarakannya pun hanya sok tahu belaka dan juga hanya menebak – nebak, padahal mereka tidak pernah mempelari kitab suci dari agama yang sedang mereka bicarakan itu.

Mempelajari kitab suci dari agama apa pun haruslah dengan niat yang baik, seperti ingin mencari pengetahuan dalam kitab itu, ketika membukanya niatnya benar – benar ingin mengetahuinya bukan berniat jelek.

Seseorang yang berniat jelek dan sudah berburuk sangka dahulu dalam mempelajari kitab suci apa pun tentu tidak akan memperoleh kesadaran murni serta pencerahan dari kitab yang di pelajari itu.

https://vm2insert.wordpress.com

Dalam sejarah peradaban di muka bumi ini. Di daerah – daerah pada suku tertentu, jika ada orang yang sangat di hormati, dan apabila orang itu meninggal, maka kaum itu akan membuat patungnya, yang dapat di buat dari batu, kayu, ataupun dari benda berharga dari emas. Tujuannya adalah untuk menghormati dan juga mengenang kebaikan orang tersebut, dan juga untuk melepas rasa rindu terhadap orang itu jika ada yang merindukannya.

Namun sayangnya, hal – hal tersebut sering berkembang menjadi ritual adat untuk menghormati benda abstrak itu secara berlebihan, bahkan berkembang menjadi ritual dari sekte / aliran agama tertentu.

Kalau kita perhatikan dan kita teliti ajaran dari tokoh – tokoh agama yang umatnya melakukan ritual  penyembahan sesuatu yang abstrak, dan kita pelajari kitab sucinya, maka kita akan menemukan ajaran – ajaran tauhid yang diajarkan oleh tokoh yang di ikuti umat tersebut dan juga ajaran tauhid yang terdapat dalam kitab sucinya. Dalam kitab sucinya juga terdapat ajaran bahwa Tuhan itu Esa, dan juga ajaran bahwa Tuhan itu tidak pernah berawal dan juga tidak pernah di lahirkan, dalam ajaran mereka juga ada bahwa Tuhan tidak bisa di lihat dan juga tidak bisa di pikirkan, bahkan para tokoh yang di jadikan benda abstrak tersebut pernah mengajarkan semasa hidupnya kepada pengikutnya untuk tidak memuja sesuatu yang bersifat abstrak.

PATUNG PADA CANDI

Patung yang terdapat pada candi sebenarnya berfungsi sebagai sarana pendidikan secara visual, yaitu pendidikan meditasi atau yoga. Kalau kita perhatikan bentuk serta posisi terutama sikap pada tangan dan kaki pada patung – patung yang terdapat pada candi selalu menunjukan posisi – posisi mudra atau yoga yang berbeda dengan patung lainnya. Dengan membuat seperti itu maka akan mudah bagi generasi berikutnya untuk mempelajari pola sikap meditasi melalui patung daripada hanya menggunakan gambar. Sementara candi yang di buat berundak – undak mengartikan bahwa kesadaran manusia memiliki tingkatan – tingkatan tertentu. Patung yang dikungkung / ditutupi dengan stupa seperti yang terdapat pada candi borobudur mengisyaratkan bahwa manusia harus membatasi diri dari nafsu – nafsu duniawi agar mencapai kesempurnaan dan jiwanya menjadi bersih di hadapan Nya.

MENILAI

Seorang yang beragama tertentu sering beragumen tentang agama lain yang di anggap memuja sesuatu yang bersifat abstrak, padahal dia sendiri ketika bersembah sujud kepada Tuhan nya juga harus menghadap benda abstrak yang berbentuk kotak yang letaknya jauh dari negaranya. Dalam sejarah penyembahan benda abstrak, seperti batu, pohon, atau bentuk lain, para pengikutnya harus selalu menghadap benda abstrak tersebut jika mereka berdoa di mana pun mereka berada.

Lalu orang ini beragumen lagi, bahwa benda kotak tempatnya berkiblat itu, ketika ia sedang bersujud hanyalah sebagai perantara kepada Tuhan, dan ia tidak menyembah benda kotak itu. Alasan ini juga sama di berikan pada pemuja benda abstrak lainnya, mereka tidak menyembah benda itu, seperti batu, pohon, dsb, mereka juga beralasan hanya menggunakan benda – benda itu hanya sebagai perantara kepada Tuhan nya, ada orang yang ketika berdoa menghadap langit, matahari, bintang, atau benda alam lainnya, karena mereka mengetahui bahwa benda – benda alam tersebut adalah ciptaan Tuhan, sehingga ketika mereka berdoa selalu berkiblat pada hal – hal tersebut agar doa mereka sampai pada Tuhan. Hal ini adalah sama alasannya dengan orang yang berkiblat pada benda kotak tersebut .

Pada zaman dahulu kalau ada batu jatuh dari langit (meteor), maka batu ini akan di anggap benda yang turun dari surga, sehingga bebanyak orang yang akan memujanya dan berusaha untuk memegang bahkan untuk menciumnya agar mendapat berkah. Hal ini juga di lakukan oleh orang yang berkiblat pada benda kotak ini ketika ia menjalankan rukun agamanya yang terakhir itu termasuk pada ibadah U, agar ia dapat mencium atau memegang batu hitam berbentuk bulat yang di anggap benda dari surga, yang di taruh di sisi benda kotak tersebut.

Orang ini juga berputar mengelilingi benda kotak ini ketika menjalankan rukun agama nya, hal ini juga sama persis orang yang memutari api, patung, batu, pohon, atau benda abstrak lainnya untuk ritual keagamaannya. Maksudnya adalah untuk mengikuti pergerakan planet – planet dan benda langit lainnya yang selalu berputar.

Sama apabila ada orang yang menyembah pohon tertentu, yang misal pohon itu terletak di Surabaya, dan orang yang berkiblat pada pohon itu berada di Jakarta, maka ketika orang itu berdoa harus menghadap kearah pohon itu, yaitu arah timur, karena Surabaya terletak di arah timur dari Jakarta.

Alasan dan ritual orang yang berkiblat pada benda kotak dan juga orang yang di anggap memuja benda abstrak itu sebenarnya hampir sama.

Orang mensakralkan benda kotak yang di jadikan kiblat tersebut, begitu pula orang yang mensakralkan benda abstrak lain, alasannya juga sama yaitu untuk menghubungkan diri mereka dengan Tuhan melalui perantaraan benda – benda abstrak tersebut, sehingga ketika mereka beribadah harus menghadap benda abstrak tersebut yang sangat mereka yakini.

Kita tidak perlu mempermasalahkan sesuatu yang bersifat semu tersebut, karena ajaran utama dari berbagai agama adalah untuk membersihkan jiwa dari sifat – sifat yang tidak layak, hampir semua agama, termasuk golongan umat yang ritual ibadahnya di anggap memuja sesuatu yang abstrak, kalau kita memperhatikan kitab sucinya, selalu ada ajaran untuk mengesakan Tuhan, dan juga ajaran bahwa  tidak ada satu mahluk pun yang dapat memikirkan tentang Tuhan.

Arjuna pernah bertanya pada Krishna mengenai masalah ini :

“Ada orang yang melakukan persembahan kepada sesuatu yang abstrak, dan juga ada yang melakukan persembahan kepada Dia (Tuhan yang tidak dapat di jangkau oleh pikiran), mana yang lebih baik ?” tanya arjuna kepada Krishna.

Krishna menjawab : “Orang yang yakin dan melakukan persembahan ke Dia, itulah yang unggul, namun orang yang melakukan persembahan pada yang abstrak serta melakukan amal perbuatan yang baik, pada akhirnya ia pun akan mencapai kesempurnaan”.

“Seorang yang melakukan amal kebajikan untuk mengharapkan kenikmatan – kenikmatan surga, maka ia akan dapat sampai ke surga, namun apabila pahalanya telah habis, maka ia akan lahir kembali ke dunia ini”.

“Sedangkan ia yang hanya mengalihkan kesadarannya pada Tuhan, akan kembali pada Nya, dan tidak akan kembali ke dunia fana ini”.  (bhagavad gita)

 

IA YANG TIDAK TERJELASKAN

Dalam Islam ada istilah tauhid yang maksudnya ajaran untuk mengesakan Tuhan, ajaran yang menjelaskan bahwa seluruh alam semesta ini di ciptakan oleh Nya, dan Ia menentukan segala sesuatu yang ada di alam ini melalui ketetapan – ketetapannya seperti hukum alam yang sudah ada. Dalam ajaran ini diwajibkan pula agar kita mengabdikan diri hanya kepada Nya dan menyembahnya dengan sepenuh jiwa dan raga kita. Dalam kitab suci agama – agama yang lain juga ditemukan ajaran yang sama, namun dengan istilah dan nama yang berbeda.

Tuhan tidak dapat dipikirkan, selama kita masih dapat memikirkannya atau membayangkannya berarti itu bukan Tuhan, tetapi hanya pikiran kita sendiri. Dalam beberapa kitab suci juga menjelaskan tentang hal ini, yakni mahluknya tidak akan sanggup untuk memikirkan keberadaannya, dan juga tidak ada satu mahlukpun yang dapat memikirkannya.

Ungkapan  dan segala macam istilah yang diberikan kepadaNya hanyalah hanyalah untuk berusaha mengungkapkan keberadaannya yang tidak pernah dapat bisa di ungkapkan. Ia dapat diberi nama apa saja dan ungkapan apa saja oleh mahluknya, namun ia yang memberi nama dan berbagai istilah kepada Nya untuk menjelaskan keekstensiannya tetap tidak pernah dapat mengungkapkannya. Seluruh nama dan istilah untuk mengungkapkanNya hanya berasal dari pikiran mahluknya. Istilah dan nama serta berbagai ungkapan yang terdapat dalam kitab – kitab suci hanyalah untuk menjelaskan keberadaanNya yang tidak pernah terjelaskan.

Para orang suci, bahkan para malaikat dan para dewa pun tidak ada yang mengetahui Nya (bhagavad gita).

Ia tidak beranak dan tidak pula di peranakan (al quran)

Dialah yang esa, yang tidak dilahirkan dan Ia tidak pernah berawal (bhagavad gita)

Seluruh alam semesta ini berada di dalam Nya (bhagavad gita)

Allah Maha Akbar (alquran) -Akbar dapat di artikan besar, namun maksud akbar di sini adalah yang melingkupi / mencakup segalanya -.

http://vazamurfi-ensklopedia.blogspot.com

http://vm2xy2insert.wordpress.com

http://www.kompasiana.com/vm2insert

http://vazamurfi.blogspot.com

 

 

Posted April 29, 2012 by vm2insert in Uncategorized

RAMALAN DAN INDRA KEENAM   Leave a comment

 

Tidak sedikit manusia yang senang terhadap dunia ramal meramal serta sesuatu yang berbau pewaskitaan seperti yang disebut dengan indra keenam, bahkan anak-anak usia remaja termasuk banyak yang mendekati hal-hal yang berhubungan dengan ramalan, mereka juga terkadang mencari atau mempelajari cara meramal atau mencari seorang guru yang dapat mengajarkan indra keenam kepada mereka.

Dunia ramal meramal memang sudah banyak disukai manusia sejak zaman prasejarah, hingga saat ini hal yang berhubungan dengan ramalan masih banyak memikat dan mempengaruhi manusia dizaman modern ini.

Jika anda termasuk orang yang menyukai ramalan atau sering mendatangi orang-orang yang dianggap memiliki indra keenam untuk menanyakan atau meramalkan sesuatu, sebaiknya anda harus kritis, anda harus belajar mencari pembuktian apakah ramalan atau informasi yang diperoleh dari orang yang dianggap mempunyai indra keenam tersebut bisa dipercaya atau tidak, sesuai dengan kenyataan banyak peramal yang sering muncul ditelevisi dan radio, ramalan mereka banyak yang tepat pada satu dua tahun pertama, tapi pada tahun-tahun berikutnya ramalan mereka banyak yang mulai tidak sesuai dengan kenyataan atau salah, bahkan banyak yang mulai mengada-ada, bahkan sebuah stasiun televisi kadang sering mengulang-ulang siaran ramalan yang benar tetapi tidak pernah mengulang siaran-siaran ramalan dari seorang peramal yang ramalannya sudah terbukti salah dan sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, seolah-olah ingin menjadikan penontonnya terikat dengan acara ramal-meramal yang diadakan oleh stasiun televisi tersebut.

Menurut kepercayaan YOGA, seseorang yang mempergunakan indra keenamnya untuk tujuan-tujuan ego seperti untuk mendapat pujian dengan pamer, atau untuk mengetahui urusan pribadi orang lain kemudian dibicarakannya kepada setiap orang yang tidak berhak untuk mengetahui urusan pribadi orang lain, atau digunakan untuk tujuan ego lainnya maka lama kelamaan jiwa dari orang yang menyalahgunakan indra bathinnya itu akan “kotor” oleh kamma terutama pada ajna chakranya sehingga lama kelamaan indra keenamnya akan mulai sering salah, jadi apa yang ia ramalkan akan sering ngawur bahkan terkadang ramalannya menyebabkan fitnah bagi orang atau pihak lain, kadang-kadang sang peramal menjadi banyak mendapatkan masalah pada dirinya, termasuk masalah pada kesehatannya, karena tanpa disadari apa yang dilakukannya telah menyebabkan jiwanya “kotor” oleh kamma, dan ini banyak terjadi pada banyak peramal.

Dalam kepercayaan Islam, ramal meramal termasuk mendatangi seorang yang dianggap mempunyai kemampuan cenayang/indra keenam untuk menanyakan sesuatu hal kepadanya; maka hukumnya termasuk musyrik yaitu dosanya tidak bisa dimaafkan, termasmasuk perbuatan keji dan sangat mungkar. Disebuah hadis Nabi Muhammad S.A.W mengatakan: Barangsiapa mendatangi seorang peramal untuk menanyakan sesuatu dengan ramalannya, dan ia mempercayainya, maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari.

Dalam sebuah hadist lain juga dijelaskan setan sering memberitahu informasi yang benar kepada para peramal, tetapi setan juga menambahkan jutaan kebohongan didalam informasi yang diberikannya itu, sehingga manusia banyak yang tersesat dan fitnah tersebar kemana-mana. Itulah hadist dan ayat-ayat dalam Al Quran tentang orang yang suka ramal-meramal sangat keras dan tegas peringatannya, termasuk dapat menyebabkan fitnah bagi pihak lain.

Keinginan untuk memiliki kemampuan pewaskitaan seperti indra keenam harus dicermati lebih dalam lagi, karena bukan tidak mungkin, dengan niat-niat untuk pamer supaya dianggap lebih oleh lingkungan tempat ia hidup , dan juga niat yang berasal dari ego lainnya, maka dari hal yang mungkin dianggap sepele itu sudah dapat menciptakan kamma pada jiwa kita, ditambah kelompok makhluk yang disebut setan yang menurut kepercayaan dari agama tertentu dapat mempengaruhi indra-indra manusia termasuk indra keenam.

Yang jelas para nabi, para wali, budha dan mesias tidak secara sengaja mempelajari atau mencari guru untuk mempelajari indra keenam, mereka mempunyai kemampuan pengindraan bathin sebagai anugrah dari Sang Pencipta, dan mereka tidak pernah mempublikasikannya untuk tujuan yang bersifat ego, sampai istrinya seandiri sering tidak tahu kalau mereka memiliki kemampuan indra bathin.

Pewaskitaan atau yang disebut dengan indra keenam juga mudah dipengaruhi dan disusupi oleh pikiran-pikiran serta oleh perasaan-perasaan sang pewaskita sendiri, contohnya ada seorang pewaskita yang sudah berburuk sangka terhadap orang lain, hal ini tentunya akan mempengaruhi pengindraan indra keenamnya, dan ini juga jarang disadari oleh sebagian besar pewaskita, sehingga ramalannya terkadang menimbulkan fitnah terhadap orang lain, bahkan sampah-sampah pikiran yang banyak tersimpan dalam alam bawah sadar sang pewaskita pun dapat mempengaruhi ramalan dari sang peramal.

Itulah sebabnya mempercayai mentah-mentah informasi yang didapatkan dari orang yang memiliki kemampuan waskita atau indra keenam dapat merugikan kita, baik rugi secara lahiriah maupun secara bathiniah, apalagi hal-hal tersebut sudah jelas diharamkan dalam berbagai agama.

Menurut salah satu pemuka agama dari agama Islam yang merujuk pada ayat Al Quran dan hadist mengatakan bahwa jika ada seseorang mencari informasi atau sekedar menanyakan sesuatu kepada seseorang pewaskita karena dianggap ia dapat maengetahui segala sesuatu dengan menggunakan indra keenamnya, maka orang tersebut sudah melakukan perbuatan musyrik dan setan akan langsung ikut campur untuk menyebarkan fitnah dan kesesatan dimuka bumi ini dengan cara menyusup kedalam tubuh sang pewaskita yang memiliki indra keenam tersebut, itu sebabnya para wali tidak pernah mengatakan kepada orang lain termasuk pada keluarganya sendiri kalau mereka memiliki indra yang bersifat kasaf, karena jika mereka mempublikasikannya apalagi untuk tujuan pamer, maka setan akan senang dan akan terjadi kemusyrikan dimana-mana, apalagi dalam Al Quran dan hadist diterangkan bahwa setiap manusia terdapat setan yang ikut mengalir bersama aliran darahnya. Menurut berbagai hadist juga dijelaskan seseorang yang mempercayai sebuah ramalan, maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari, dari hadist ini dapat kita simpulkan bahwa orang kelihatayang rajin beribadah tapi sering bertanya kepada orang yang dianngap mengetahui segala sesuatu karena memiliki indra keenam, sama saja semua ibadah orang itu sia-sia, mungkin orang yang sholatnya kadang-kadang saja tapi bebas dari kemusyrikan itu lebih baik, daripada yang rajin tapi mudah mempercayai kata peramal yang dianggap mempunyai indra keenam.

CONTOH RAMALAN MENYESATKAN YANG MENYEBABKAN BAYI LAKI-LAKI BANYAK TERBUNUH:

Kehidupan di Mesir pada jaman dahulu, terutama pada masa – masa pemerintahan firaun (sebutan untuk raja di Mesir) sangat lekat dengan berbagai macam sihir dan juga dengan ramalan – ramalan tentang kehidupan, setiap firaun selalu memiliki beberapa peramal dan penyihir yang dijadikan seperti badan penasehat bagi firaun, bahkan setiap akan melakukan sesuatu termasuk membuat keputusan selalu meminta nasihat terlebih dahulu kepada mereka.

Pernah pada suatu ketika para peramal meramalkan bahwa akan ada bayi laki – laki yang lahir pada tahun itu, dan bayi itu diramalkan kelak setelah dewasa akan melakukan pembunuhan terhadap firaun, mendengar ramalan ini firaun menjadi gelisah, kepercayaannya terhadap ramalan – ramalan membuat jiwa dan hatinya sangat gelisah dan khawatir, sehingga ia membuat keputusan yang sangat tidak tepat, yaitu memerintahkan semua pasukannya untuk mencari dan membunuh setiap bayi laki – laki yang lahir.

Namun akhirnya ada juga salah satu bayi laki – laki yang tetap selamat karena kelihaian dari ibunya sendiri yang sangat menyayanginya sendiri, sehingga ia terselamatkan dari pembunuhan massal itu, bayi itu akhirnya tumbuh dewasa dan bernama Musa / Moses, dan juga kenal dekat dengan firaun.

Ketika dewasa Moses sering menentang peraturan – peraturan yang dibuat firaun, yang lebih sering merugikan rakyatnya, dan juga menentang perbudakan yang dilakukan oleh firaun, semuanya itu dilakukannya dengan aksi damai oleh Moses.

Moses / Musa juga mengajarkan ajaran – ajaran hakikat kehidupan dan juga ketuhanan kepada para pengikutnya. Apa yang dilakukan Moses ternyata tidak di sukai oleh firaun, dan juga membuat firaun dengki kepada Moses dan pengikutnya, sehingga firaun ingin membunuh Moses dan pengikutnya,  singkat cerita akhirnya Moses dan pengikutnya melarikan diri dari firaun dan pasukannya dengan menyebrangi laut yang telah terbelah karena mukjizat, setelah Moses dan pengikutnya sudah sampai di daratan sebrang, sementara firaun dan pasukannya yang mengejar, masih di tengah lautan y ang terbelah, tiba – tiba lautan tertutup kembali sehingga firaun dan pasukannya yang ingin membunuh Moses, malah tenggelam dan mati di laut, karena peristiwa itu Moses serta pengikutnya menjadi selamat dari usaha pembunuhan yang akan dilakukan oleh firaun terhadapnya.

Dari cerita ini jelaslah bahwa ramalan para peramal firaun itu salah besar dan sangat menyesatkan, karena kenyataannya yang ingin melakukan pembunuhan bukanlah Moses, tetapi firaun sendirilah yang ingin melakukan pembunuhan terhadap Moses dan pengikutnya yang sama sekali tidak melawan, bahkan lari ketika akan dibunuh, tetapi akhirnya firaun sendirilah yang mati terbunuh, bukan karena dibunuh oleh siapapun, tidak ada yang membunuh firaun, tetapi ia terbunuh sendiri disebabkan tenggelam di laut, karena hasil ulahnya sendiri, ibarat pribahasa, firaun telah mengalami senjata makan tuan.

Karena ramalan yang menyesatkan itu, semasa hidup, firaun telah melakukan banyak pembunuhan terhadap bayi laki – laki , padahal firaun sendirilah yang suka melakukan pembunuhan. Dari cerita ini yang tertulis dalam Al Quran dan Injil kita mendapat pelajaran agar kita selalu harus berhati – hati terhadap ramalan – ramalan yang sering banyak dikemukakan oleh orang – orang yang mengaku memiliki indra keenam, agar kita tidak tersesat seperti firaun.


http://www.kompasiana.com/vm2insert

 

Posted April 29, 2012 by vm2insert in Uncategorized

ramalan   Leave a comment

Get Gifs at CodemySpace.com

Kehidupan di Mesir pada jaman dahulu, terutama pada masa – masa pemerintahan firaun (sebutan untuk raja di Mesir) sangat lekat dengan berbagai macam sihir dan juga dengan ramalan – ramalan tentang kehidupan, setiap firaun selalu memiliki beberapa peramal dan penyihir yang dijadikan seperti badan penasehat bagi firaun, bahkan setiap akan melakukan sesuatu termasuk membuat keputusan selalu meminta nasihat terlebih dahulu kepada mereka.

Pernah pada suatu ketika para peramal meramalkan bahwa akan ada bayi laki – laki yang lahir pada tahun itu, dan bayi itu diramalkan kelak setelah dewasa akan melakukan pembunuhan terhadap firaun, mendengar ramalan ini firaun menjadi gelisah, kepercayaannya terhadap ramalan – ramalan membuat jiwa dan hatinya sangat gelisah dan khawatir, sehingga ia membuat keputusan yang sangat tidak tepat, yaitu memerintahkan semua pasukannya untuk mencari dan membunuh setiap bayi laki – laki yang lahir.

Namun akhirnya ada juga salah satu bayi laki – laki yang tetap selamat karena kelihaian dari ibunya sendiri yang sangat menyayanginya,  sehingga ia terselamatkan dari pembunuhan massal itu, bayi itu akhirnya tumbuh dewasa dan bernama Musa / Moses, dan juga kenal dekat dengan firaun.

Ketika dewasa Moses sering menentang peraturan – peraturan yang dibuat firaun, yang lebih sering merugikan rakyatnya, dan juga menentang perbudakan yang dilakukan oleh firaun, semuanya itu dilakukannya dengan aksi damai oleh Moses.

Moses / Musa juga mengajarkan ajaran – ajaran hakikat kehidupan dan juga ketuhanan kepada para pengikutnya. Apa yang dilakukan Moses ternyata tidak di sukai oleh firaun, dan juga membuat firaun dengki kepada Moses dan pengikutnya, sehingga firaun ingin membunuh Moses dan pengikutnya, singkat cerita akhirnya Moses dan pengikutnya melarikan diri dari firaun dan pasukannya dengan menyebrangi laut yang telah terbelah karena mukjizat, setelah Moses dan pengikutnya sudah sampai di daratan sebrang, sementara firaun dan pasukannya yang mengejar, masih di tengah lautan y ang terbelah, tiba – tiba lautan tertutup kembali sehingga firaun dan pasukannya yang ingin membunuh Moses, malah tenggelam dan mati di laut, karena peristiwa itu Moses serta pengikutnya menjadi selamat dari usaha pembunuhan yang akan dilakukan oleh firaun terhadapnya.

Dari cerita ini jelaslah bahwa ramalan para peramal firaun itu salah besar dan sangat menyesatkan, karena kenyataannya yang ingin melakukan pembunuhan bukanlah Moses, tetapi firaun sendirilah yang ingin melakukan pembunuhan terhadap Moses dan pengikutnya yang sama sekali tidak melawan, bahkan lari ketika akan dibunuh, tetapi akhirnya firaun sendirilah yang mati terbunuh, bukan karena dibunuh oleh siapapun, tidak ada yang membunuh firaun, tetapi ia terbunuh sendiri disebabkan tenggelam di laut, karena hasil ulahnya sendiri, ibarat pribahasa, firaun telah mengalami senjata makan tuan.

Karena ramalan yang menyesatkan itu, semasa hidup, firaun telah melakukan banyak pembunuhan terhadap bayi laki – laki , padahal firaun sendirilah yang suka melakukan pembunuhan. Dari cerita ini yang tertulis dalam Al Quran dan Injil kita mendapat pelajaran agar kita selalu harus berhati – hati terhadap ramalan – ramalan yang sering banyak dikemukakan oleh orang – orang yang mengaku memiliki indra keenam, agar kita tidak tersesat seperti firaun.

http://vm2xy4.wordpress.com

Posted November 9, 2011 by vm2insert in Uncategorized

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.